Konser 24 Tahun Kahitna
Yovie Widianto - endorsee Yamaha yang juga merupakan pemain piano dan keyboard Band Kahitna pada hari Senin lalu menggelar konser Kahitna, berikut ulasan Konser 24 Tahun Kahitna di www.kahitna.net
-----------
Semua bermula dari teriakan lantang seorang MC mungil nan cantik,“Let’s give it up, Kahitna!”Dan sejenak kemudian, kemeriahan pesta berlanjut dengan desiran aroma peluh penonton yang memadati ruang kafe, juga asap rokok yang membumbung tinggi di langit-langit.
Jakarta baru saja diguyur hujan seharian. Ke mana kaki melangkah, genangan air tampak mengilap di sisi-sisi jalanan. Angin berhembus dingin. Dan kebanyakan orang, pasti akan memilih langsung pulang seusai bekerja. Tidur nyenyak di atas kasur-kasur empuk dan berbungkus dengan selimut. Pula, hari itu hari Senin (19/7). Hari menyebalkan bagi rata-rata penduduk Ibu Kota yang terjebak dalam rutinitas nine to five. Hari pertama dalam sepekan ini, sepertinya selalu jadi hari yang ingin cepat-cepat dilewati.
Tapi fenomena umum itu tidak berlaku di salah satu pojokan tengah kota. Setidaknya pada hari itu. Nun, di dalam sebuah kafe beken di bilangan Thamrin, ada hiruk pikuk yang sedang bergulir. Sebuah pesta baru saja akan berjalan. Siap mengalunkan nada-nada yang membius hati. Dan mengundang hasrat untuk bernyanyi. Semua orang tampak bersuka cita. Dan seolah tak ingin waktu cepat berlalu.
Kafe itu, Hard Rock Café, tengah dikunjungi banyak orang. Ruang bagian dalamnya benar-benar padat. Jarak antara satu tubuh pengunjung dengan yang lain begitu rapat, hingga tidak menyisakan ruang untuk bergerak. Jam sudah menunjukkan pukul 22.30. Dan di atas panggung sana, 8 orang bapak-bapak dan satu pemuda musisi yang selama 24 tahun ini malang melintang di industri musik Indonesia, terlihat begitu asyik menampilkan karya-karyanya. Mereka, yang nama kelompok musiknya dipanggil oleh MC mungil nan cantik itu: Kahitna.
Di bawah lampu sorot berwarna kuning dan putih, kesembilan personil Kahitna tampak sangat berwibawa. Dengan dominasi kemeja flanel dan jas berwarna putih, hitam, dan abu-abu, mereka terkesan begitu mewah. Membuat ratusan pasang mata tak henti-hentinya memandang. Tak peduli jenis kelamin, usia, profesi, bahkan ras.
Mengawali konser yang diselenggarakan dalam rangka menyambut hari jadinya, Kahitna menyapa penonton dengan lagu Untukmu, yang segera disambung dengan Everybody Needs Somebody, Tentang Diriku, dan Andai Dia Tahu.
Sementara itu, di sisi lain kafe, di sela-sela konser, seorang fotografer media tampak begitu sibuk menjepretkan kameranya. Ia megap-megap, sesekali menjulurkan kameranya jauh ke atas kepala demi mengambil gambar yang maksimal. Namun, ruang geraknya tetap saja terbatas akibat berjubelnya penonton. Ia pun lantas mengambil inisiatif untuk naik ke lantai 2 kafe. Di sana, di pagar balkon, ia menemukan titik yang nyaman untuk kembali bekerja. Sepertinya, ia bisa sedikit leluasa mengambil gambar para personil Kahitna, demi melancarkan kepentingan majalahnya. Ah, wartawan, wartawan. Salut untuk dedikasi kalian.
Di lantai 2 itu juga, dalam keremangan cahaya, Vino, manajer Ran seperti sedang mencari-cari sesuatu. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang teman, yang kebetulan juga orang dari media.
“Eh, lo lihat Nino? Vokalis gue,” tanya Vino.
“Nggak lihat. Memangnya dia nonton juga?” tanya si orang media.
“Iya. Nonton. Dia tuh begitu. Kalau kumpul sama band suka ngaret. Tapi kalau nonton Kahitna, dia gak pernah telat.”
“Oh ya?” si orang media membelalakkan matanya.
“Iya. Dia sudah di sini dari jam setengah 10, lho,” tegas Vino lagi.
“Ah, sayangnya gue nggak lihat, Sob.”
“Ya sudah, ya. Gue cari dia dulu, deh,” pungkas Vino menutup pembicaraan itu. Dan mereka pun kembali hilang dalam keremangan cahaya.
Tanpa terasa, waktu begitu cepat berlalu. Kahitna sudah menyanyikan lagu yang ke-10, Bintang. Hedi sudah sedari tadi melepas jas kelabunya dan lebih memilih menonjolkan kemejanya yang berlengan pendek motif garis hitam putih saja. Ia tampak begitu sumringah, meski peluh terlihat menetes di dahinya. Budhi juga tampak sedikit ingin eksis. Ia maju ke depan, keluar dari perangkat drumnya, dan bermain shaker.
Lagu yang sarat dengan nuansa akustik ini termasuk salah satu lagu favorit Soulmate Kahitna, yang ada di album Lebih Dari Sekedar Cantik. Hanya saja, saat membawakan lagu ini, ketiga vokalis Kahitna agak sedikit kelupaan. Ada beberapa bagian di mana mereka sempat meleset, bernyanyi tidak sesuai dengan musik. Tapi, itu hal yang umum terjadi di setiap konser live. Dan ketiga vokalis itu menyikapinya hanya senyum-senyum saja, sambil menyapu pandangan ke arah Yovie.
Saat lagu Bintang usai dimainkan, tiba-tiba Sita RSD dan Nina Tamam maju ke depan, ke atas panggung sambil membawa kue ulang tahun. Mereka berdua serta merta memimpin seluruh penonton untuk menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. Dan setelah lilin ditiup oleh vokalis-vokalis Kahitna, mereka berdua segera mengucapkan selamat ulang tahun. Masih ditambah bonus peluk dan cium, tentunya.
Adegan seremonial ulang tahun selesai dilakukan. Saat Sita dan Nina akan turun kembali dari atas panggung, tiba-tiba Hedi berceletuk, “Eh, masa’ sudah bawa kue, kok, nggak nyanyi?” Kedua penyanyi wanita itu lantas berpandang-pandangan. Dan dengan berat hati, mereka pun pasrah mendapat perploncoan dari Kahitna. Sita pun menyanyikan lagu Suratku. Sementara Nina menyanyi Sebatas Mimpi. Dan mereka berdua berhasil tampil dengan memukau. Tepuk tangan penonton tak henti-hentinya bergemuruh, mengiringi setiap improvisasi mereka saat menginjak notasi-notasi tinggi dan sulit.
Kolaborasi vokalis tidak tuntas sampai di situ. Ronny Waluya, mantan vokalis Kahitna, ternyata juga hadir. Ia pun dipaksa menyanyikan 2 buah lagu lawas berjudul Cerita Cinta dan Kita Bangun Negeri. Di tengah penampilannya, tiba-tiba Hedi berulah. Ia bertanya iseng ke Ronny, “Mau masuk Kahitna lagi nggak? Kalau mau, Mario keluar, nih.”
Mendengar pertanyaan itu, Ronny hanya mesam-mesem saja. Mario pun sontak tergaguk-gaguk dan tersenyum keki. Tapi Hedi kembali mencairkan suasana dengan berakting membujuk Mario, sambil berujar, “Cup, cup, cup, entar kakak beliin rok, ya?” Mendengar candaan Hedi, Mario langsung tertawa. Begitu pun Ronny, Carlo, personil Kahitna lainnya, dan seluruh penonton.
Tepat tengah malam, pertunjukan Kahitna berakhir. Sebuah lagu berjudul Soulmate menjadi penutup kegembiraan seluruh pengunjung Hard Rock Café pada malam itu. Sebuah lagu penutup yang sekaligus menjadi refleksi diri, bahwa Kahitna bukanlah siapa-siapa. Bahwa Kahitna hanyalah 9 orang musisi biasa yang menjadi luar biasa, karena adanya dukungan para sahabat, penggemar, yang menamakan dirinya sebagai Soulmate.
Di usianya yang sudah menginjak angka 24 tahun ini, Kahitna tidak lagi berharap terlalu muluk. Mereka hanya ingin Soulmate bisa terus ada, seiring sejalan dengan Kahitna, sampai seterusnya. Sampai Tuhan memisahkan mereka.







